Kompas, 20 Juni 2001

“Rai Timor”, Anakmu di Gunung Kidul

Kompas/stefanus osa priyatna

O Rai Timor, rai nau moris fatin.

SEPENGGAL syair lagu yang berarti “O tanah Timor, tanah kelahiranku” itu dinyanyikan oleh sejumlah anak-anak pengungsi di Asrama Taman Bina Anak Bangsa (TBAB), Playen, Gunung Kidul, DI Yogyakarta, suatu hari di awal Juni ini. Dalam syair selanjutnya terungkap, mereka telah meninggalkan dusun, orang tua, dan sanak-saudara yang tinggal di tanah Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), menuju tanah Jawa untuk meniti masa depan. Sebagai bagian dari pengungsi di kamp-kamp pengungsian di Kupang, anak-anak itu mempertanyakan, apakah salah mereka.

Bahkan, mereka berani mengatakan, “Tulang hanya berharga untuk anjing. Darah kami hanya dijilati anjing. Gara-gara orang pintar, kaum bodoh yang mati….” Dalam ketegaran hati, anak-anak itu pun masih menyerukan agar bangsa ini bersatu-padu menegakkan Bendera Merah Putih.

Seruan anak-anak Rai Timor yang kini berada di Gunung Kidul itu mungkin (nyaris) tak terdengar. Jumlahnya saja hanya 46 anak, tentu baru sebagian kecil dari ribuan anak pengungsi yang berhasil diselamatkan oleh Yayasan Harapan Timor (Hati) pada 22 Mei lalu.

Sebelumnya, pada bulan November 1999, Yayasan Hati ini telah menyelamatkan 126 anak yang terbagi dalam dua gelombang. Untuk mengenyam pendidikan SD, mereka dititipkan di sejumlah Panti Asuhan (PA) di Jawa Tengah, antara lain, PA Gedang Anak (Semarang), PA Bethlehem (Temanggung), PA Brayat Pinuji dan PA St Maria (Boro), serta PA St Thomas (Jimbaran).

Menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) Yayasan Hati Octavio AJO Soares, untuk membawa anak-anak itu keluar dari kamp pengungsian pun mengalami berbagai kendala. Dari pihak orang tua, katanya, ada yang masih keberatan. Dalam perjalanan pun, misalnya, anak-anak itu menangis. Yayasan Hati tidak akan membawa mereka dan segera mengembalikan kepada orang tuanya masing-masing. Ia pun mengaku sempat diinterogasi oleh aparat keamanan di Pelabuhan Kupang dengan tuduhan menculik anak-anak pengungsi.

***

SETELAH dibina di Asrama Timor Timur, Yogyakarta, dengan pendekatan religius, seperti doa bersama sebelum dan sesudah makan, misa kudus di Gereja Katolik Keluarga Kudus, Banteng (Sleman), selama beberapa minggu, mereka langsung ditempatkan di Asrama TBAB, Playen, Gunung Kidul ini.

Octavio mengatakan, “Pendekatan ini merupakan cara terampuh untuk mendidik anak-anak Timtim. Kalau selama ini mereka tidak takut pada orang tua atau sesamanya, mereka ternyata masih bisa diarahkan untuk takut kepada Tuhan.” Dari ketakutan terhadap Tuhan inilah, lanjutnya, mereka akan belajar bagaimana mengasihi sesamanya.

Setelah jauh dari orang tua, sebagian besar dari mereka yang kini bertubuh kurus, hitam legam, dan mayoritas berambut keriting itu rencananya akan bersekolah di sekolah-sekolah terdekat dari asrama itu.

Menurut Pelindung Asrama TBAB, J Soewardijo, dana untuk operasional pendidikan memang belum jelas. Sekolah mereka pun masih diurus oleh Yayasan Hati. Apalagi, instansi terkait belum dilibatkan untuk menunjukkan kepeduliannya.

Mantan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) Timtim ini juga mengatakan, dirinya trenyuh (terharu) menerima kehadiran sebagian anak-anak bangsa ini. Meskipun asrama ini masih bersifat darurat, ia berharap anak-anak itu berani menyongsong masa depan dengan ketegaran hati. “Yang pasti, sangat mendesak sekali kepedulian kita untuk masa depan mereka,” tegasnya.

Tentu tidak mudah mendidik anak-anak yang sudah hidup dengan kekerasan. Karena itu, usul Octavio lagi, para pembina panti asuhan bisa mendidik anak-anak itu dengan sistem punishment and reward (hukuman dan hadiah) ala Timtim. “Maksudnya, kebiasaan mendidik kami harus sesuai dengan mentalitas orang Timtim yang gamblang dan keras. Bukan dengan cara-cara seperti mendidik masyarakat Jawa yang terkenal halus atau alon-alon waton kelakon,” jelasnya. Secara psikologis, katanya, cara yang seimbang antara pemberian punishment dan reward ini tidaklah keliru, bila diterapkan pada mereka. Kalau memang melakukan kesalahan, mereka pantas segera diberikan hukuman. Namun, kalau mereka benar dan memperoleh keberhasilan, mereka pantas diberi pujian, misalnya ucapan terima kasih.

***

KETUA Umum Yayasan Hati Ny Natercia MJO Soares, di tempat pengungsian anak-anak itu hidup dalam suasana lingkungan yang diwarnai kekerasan dari hari ke hari. Bahkan, berbagai hal yang tidak mendidik anak-anak, seperti judi sudah menjadi pemandangan yang lumrah.

Menurut Natercia, lebih baik tindakan kemanusiaan untuk hidup para pengungsi bukan terus-menerus diberikan sumbangan berupa uang, beras, dan bahan makanan lainnya. Semua itu tidak akan memperoleh hasil yang optimal, tandasnya.

Justru itulah, sambungnya, Yayasan Hati ingin mencari cara bagaimana mendidik anak-anak pengungsi tetap menjadi manusia Indonesia yang lebih baik di masa depan. Anak-anak itu diharapkan kelak bisa mandiri dan memiliki iman yang kuat, sehingga bisa membantu orang tua mereka masing-masing.

Mengapa mereka harus keluar lingkungan tanah kelahiran atau keluarganya untuk memperoleh pendidikan? Adakah cara lain? Menurut Natercia, sekolah-sekolah di kamp-kamp pengungsian hanyalah sekolah darurat.

“Pada musim hujan, sekolah-sekolah itu tidak akan berfungsi, sebab di kamp-kamp pengungsian, mereka itu seperti hidup di kandang babi. Air menggenang di mana-mana, lumpur di sana-sini pun tidak bisa dielakkan lagi dari kehidupan sehari-hari mereka,” ujarnya. Belum lagi penyakit yang siap menyerang tubuh anak-anak itu, tambahnya.

Keadaan memprihatinkan tersebut membuat berbagai kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM) mencari cara, bagaimana menyelamatkan masa depan anak-anak pengungsi itu. Ia menegaskan, “Seandainya di Kupang dan Flores ada tempat untuk melangsungkan pendidikan anak-anak itu, tentu kami akan menempatkan mereka di sekitar daerah itu. Bukan di daerah Jawa.” Namun sayangnya, ujar Natercia, di sana belum ada tempat yang memungkinkan untuk melangsungkan kegiatan pendidikan anak-anak.

“Tentu, bukan maksud kami menjauhkan anak-anak itu dari dekapan mama dan papa mereka. Yang jelas, kami ingin menjauhkan mereka dari lingkungan yang begitu buruk di kamp pengungsian itu,” tandasnya.

Ia berpendapat, tanggung jawab moral kemanusiaan ini se-harusnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Sebab, kalau kita telusuri pada masa pergolakan antara pro dan anti-integrasi beberapa tahun lalu, ternyata terungkap bagaimana kebijakan politik pemerintah telah meluluh-lantakan perkembangan masa depan anak-anak hingga mereka nyaris menjadi generasi yang hilang dari bumi Indonesia.

Natercia mengaku, sampai saat ini Yayasan Hati belum pernah menerima bantuan sedikit pun dari pemerintah maupun luar negeri. Meskipun selama ini, katanya, ada saja orang-orang yang mencap bahwa Yayasan Hati telah memakai penderitaan anak-anak untuk memperoleh bantuan-bantuan.

Terhadap perjalanan panjang masa depan anak-anak ini, paparnya, Yayasan Hati hanya mampu memberikan biaya pendidikan sampai tingkat SLTP. Yayasan Hati berikhtiar untuk berusaha menabung dari hasil berbagai sumbangan dan memberikan kursus-kursus kepada anak-anak yang mampu lulus SLTP, sehingga bisa menjadi tenaga kerja siap pakai di daerahnya masing-masing. (sto)